Jam 7.30. Pak Guru belum hadir. Di sebelah kanan, murid-murid perempuan sudah berdengung seperti pasar Jumat. Anak-anak lelaki saling melempar potongan kapur tulis. Beberapa membaca komik. Ada yang menguap. Ada yang berbisik-bisik.
Pak Guru muncul dari pintu, dengan rambut klimis dan seragam yang pudar namun rapi. Seperti polisi yang membuat terdiam seluruh kelas. Udara wangi bercampur keringat, menegaskan keberadaannya.
Ia meletakkan tas tua di atas kursi. Mengambil kapur tulis dan menulis hati-hati di papan. Anak-anak sedikit lega, berbisik-bisik lagi, berisik lagi.
Pak Guru berbalik. Seketika semua diam dan mata-mata terjaga.
“Tulis jawabannya di kertas dan kumpulkan di meja saya. ” Suaranya tegas seperti seharusnya. Kemudian ia mengambil tas, beranjak pergi lalu hilang melalui pintu itu lagi.
Tulisan dari zaman orde lama di atas papan hitam.
Pelajaran mengarang.
Seandainya anda terpilih menjadi Presiden, dan diberi 6,7 triliun, untuk dibelanjakan pada 100 hari yang pertama, apa yang akan anda lakukan. (Catatan: Tidak diperbolehkan diinvestasikan pada bank yang mati atau hampir mati, sebab dengan cara itu dana tersebut sudah pasti, akan ditarik oleh nasabahnya. Yang mengakibatkan dana tersebut habis, dan terpaksa anda harus memulai dari nol, agar bank tersebut laku dijual tiga tahun berikutnya, untuk harga yang belum ditentukan ). (Keterangan, 1 triliun = seribu miliar, 1 miliar = seribu juta). Selamat mengerjakan.
Anak-anak terdiam sebentar, mengamati papan tulis. Muka mereka bertanya-tanya. Tak lama kemudian keramaian sudah meliputi ruang kelas. Bunyi kertas-kertas disobek riuh. Semakin gaduh. Lalu sunyi.
***
Lampu kilat bersahutan menyilaukan.
Ruang sudah tertata rapi, bendera negara bertegak wibawa, di tepi dinding yang ada gambarku sendiri, dan wakilku. Wakil presiden dan para menteri duduk di kursi-kursi. Para wartawan berdesakan di balkon belakang. Aku memasuki ruang itu seperti guru yang ditunggu-tunggu murid-muridnya.
Aku melangkah mendekati podium, dengan pikiran dan hati yang pasti. Serapi jas, dasi dan celana yang kugosok ulang pagi ini.
Kuperbaiki posisi mikrofon, kuketuk-ketuk, kutebarkan pandangan ke kiri dan ke kanan, memeriksa kalau ada lalat yang masih berkeliaran maupun bawahan-bawahan yang mengantuk. Kurogoh saku kananku dan kukeluarkan catatan yang aku susun tadi malam.
sang presiden
“Saudara-saudara,” suaraku membuka suasana.
“Sehat?” Tanyaku.
“Sehaaat …,” serempak hadirin menjawab. Senyum-senyum di wajah mereka.
“Bagaimana perjalanan anda pagi ini. Lancar?”
“Lancaaar…,” jawab mereka.
Aku menunggu sejenak sampai suasana tenang.
“Ya, terang saja. Soalnya Pak Polisi sudah menertibken daripada jalan anda, sehingga perjalanan anda lancar. Bayangken seandainya anda ke sini sebagai masyarakat biasa. Karena kemacetan yang sistemik di ibukota ini, saya jamin anda akan terlambat semua.”
Hadirin pun memandang penuh rasa ingin tahu.
“Untuk memperlancar daripada perjalanan anda, kemarin sempat saya rencanaken membeliken mobil-mobil dinas yang baru untuk saudara-saudara. Yang lebih cepat, lebih aman, dan lebih nyaman daripada mobil dinas yang ada sekarang. Saya yakin saudara-saudara senang atau setuju dengan hal tersebut,” lanjutku.
Muka-muka berseri-seri. Hanya para wartawan di belakang yang tetap khidmat.
“Tapi tadi malam saya pikir-pikir lagi soal ini.” Beberapa orang mengeriyitkan dahi, sebagian tetap berseri-seri.
“Saya menemuken cara lain agar perjalanan Saudara-saudara ke sini lebih cepat, efisien, efektif dan menghemat anggaran secara mikro maupun makro.”
Sekarang semua orang khidmat.
“Saya, Presiden republik ini, akan mengurangi atau menghilangken daripada sumber kemacetan itu sendiri.”
Kutebar pandangan ke seluruh ruangan. “Coba kira-kira tempat-tempat mana saja yang membuat jalan macet, silahken dijawab.”
Salah satu hadirin, wakil presiden, mengacungkan jarinya dan menjawab. Aku yakin itu jawaban yang akurat, sayangnya tidak kedengaran.
“Coba saudara wakil presiden maju, ke sini”, kataku. Aku pun mengarahkan mikrofon. Wakil presiden menyorongkan wajahnya ke arah mikrofon, dan melihat ke kamera.
“Lampu merah, Pak,” jawabnya yakin dengan senyum yang khas.
“Bagus, jawaban yang baik.” Kataku. “Silahken bertepuk tangan. Bangsa yang besar adalah bangsa yang mampu menghargai prestasi sekecil apapun.” Hadirin pun bertepuk tangan riuh.
“Terimakasih saudara wapres, silaken kembali ke tempat duduk.” Wapres dengan santai melirik ke kamera-kamera, memberi senyumnya yang malu-malu, lalu kembali ke tempat duduk.
“Yang lain lagi? Tempat tempat mana saja yang potensiil menyebabkan kemacetan?” lanjutku.
Hadirin terdiam beberapa saat, seperti memikirkan hal-hal yang sulit.
Tiba-tiba pintu terbuka. Rupanya salah seorang menteri terlambat. Hrrgh. Pikirku. Hari gini seorang menteri terlambat. Benar-benar tidak reformis.
“Di pasar macet Pak,” katanya sembari tergopoh depan podium, dan membuka kedua telapak tangannya sendiri. Seperti pemain bola yang tidak mengaku salah.
“Hmm, jawaban yang bagus. Tepuk tangan yang meriah.” Tepuk tangan pun meriah.
Pak Menteri merah padam dan berkerut-kerut, merasa disindir. Lalu ia mengambil mapnya yang jatuh saat ia menjawab tadi, dan menentengnya menuju sebuah kursi kosong.
“Inilah kata kunci hari ini, pasar. Pasar yang macet,” kataku tegas.
“Sudah lama kita memprioritasken pembangunan semesta pada indikator-indikator yang makro dan ilmiah seperti GDP, GNP, nilai tukar, nilai saham-saham, rasio-rasio dan nilai-nilai lainnya. Tapi tidak juga perkembangan negara ini memuasken. Baik menurut pandangan kita maupun pandangan dunia. Dan semangkin ke sini, perkembangannya semangkin tiada menggembiraken.”
“Untuk itu kabinet ini akan menggunaken pendekatan yang sama sekali lain.“
Aku berhenti sejenak, membiarkan hadirin mencerna kata-kataku.
“Saudara ingat nasihat Aa Gym, penasehat spiritual saya? Beliau selalu mengataken: mulai dari diri sendiri, mulai dari hal-hal yang kecil dan mulai sekarang juga.”
“Sekarang, kita mulai dari hal yang kita anggap kecil yang ada dalam diri kita, yaitu pasar .”
“Lebih tepatnya, pasar tradisional. ”
“Perekonomian kita, selama berabad-abad telah ditopang oleh pasar tradisional. Pasar yang tidak hanya ramai, efisien, efektif, mensejahteraken, membahagiaken tetapi juga 256% sejalan dengan tradisi, budaya dan ruh dan elan vital bangsa kita. ”
“Namun di zaman mutakhir ini, peran pasar-pasar rakyat semangkin tergusur, bukan hanya oleh paserba-paserba dari luar yang canggih dan sistemik, tetapi dari cara kita melupaken daripada pasar itu sendiri.“
“Kita membuat gedung-gedung yang mencakar langit, monumen-monumen yang megah, bandara-bandara yang mewah, jalan-jalan yang bertumpuk-tumpuk, jembatan yang melintasi dua tiga pulau, tetapi kita lupa daripada membangun pasar-pasar itu.”
“Hari ini, pasar-pasar tersebut banyak yang terlantar. Kalaupun dibangun, didominasi kios-kios yang tidak terjangkau oleh para pedagang, atau diletakkan paserba besar di dalamnya. Akhirnya pedagang-pedagang kecil tergusur ke gang-gang, ke emper-emperan, trotoar-trotoar bahkan jalan-jalan. Padahal pada semula pedagang cuma bayar karcis saja untuk berjualan di dalam pasar. Celakanya di tempat-tempat yang terpinggirkan tersebut, masih juga pedagang-pedagang tersebut harus membayar markos (makelar kios) dan pungli.”
“Maka daripada itu, untuk membangkitken daripada budaya ekonomi itu, hari ini saya perintahken pembenahan pasar tradisional, atau pasar rakyat, dengan dana yang ada ini yaitu 6.7 triliun.”
“Sepuluh miliar untuk setiap pasar. Jadi paling tidak kita dapat memperbaiki daripada 670 pasar, yang tersebar di pusat dan pelosok-pelosok ibukota ini.”
“Kita prioritasken dulu pasar di Ibukota dan sekitarnya, karena tempat ini menentuken pencitraan kita di dunia internasional. Pasar-pasar tersebut akan menjadi proof of concept, dari program revitalisasi ini . Nantinya, 100 hari kemudian akan saya perintahken daerah-daerah mencontoh apa yang kita lakuken, baik di bagian barat maupun di bagian timur, dengan APBD masing-masing.”
“Kita pugar bagian tengah pasar yang rata-rata telah menjadi kios-kios besar yang sewanya mahal. Buka kembali menjadi ruang yang secara ekonomis terjangkau masyarakat banyak. Sehingga pedagang-pedagang sayur, bumbu, buah, es, gado-gado, soto, somay dan kakilima-kakilima lain, dapat kembali berjualan di sana lagi. Jangan hanya diisi pedagang-pedagang berduit seperti emas, pakaian, barang elektronik apalagi pedagang saham.”
“Pasar-pasar itu bukan habitat daripada Paserba-paserba atau supermarket. Kalau ada di dalemnya terkandung jenis-jenis usaha tersebut, pindahken ke tempat lain sejauh-jauhnya. Kita akan keluarkan perpu mengenai itu.”
“Bangun gudang-gudang dan terminal bongkar muat yang memadai untuk pasar-pasar itu. Komite pemberantasan korupsi harus melaporkan berbagai bentuk pungli dan terorisme di sektor transportasi, untuk ditindaklanjuti yang berwajib.”
“Bila tidak muat juga untuk pedagang-pedagang itu, kita bebasken lahan sekitarnya dan kita perluas pasarnya.”
“Saya akan perintahken para arsitek untuk merancang bangunan pasar yang ideal, sebagaimana yang dilakuken Pemerintah penjajahan dahulu ”
“Kita bentuk Komite Nasional Stabilitas Pasar Tradisional yang terdiri dari para pakar. Untuk bekerja sama dengan perusahaan-perusahaan pasar daerah dan pihak-pihak yang terkait. Mengelola pasar-pasar itu dengan profesional, konstitusional, higienis dan penuh nasionalisme.”
“Kita berantas pungli-pungli di pasar. Kita bentuk satgas pemberantasan pungli sehingga tidak ada lagi ekonomi biaya tinggi.”
“Pasar-pasar itu akan menyerap tenaga kerja yang lebih besar baik pada saat pembangunannya, maupun sehari-harinya. Petani-petani akan mudah menjual dagangannya, sopir-sopir akan banyak muatannya, kuli angkut makin laris dan masih banyak lagi. Dengan mensejahterakan mereka, sejahtera juga pendidikan anak-anak Indonesia.”
“Kemudian akan melahirkan pemimpin-pemimpin Indonesia masa depan.”
“Insyaallah, apabila pasar-pasar tradisional itu tertata dan terbuka kembali bagi semua lapisan masyarakat, tidak tumpah lagi pasar-pasar itu. Tidak lagi membuat kemacetan. Sehingga saudara tidak perlu terlambat lagi.”
“Dampak sistemik yang luar biasa, bukan?” Hadirin manggut-manggut. Tidak ada yang mengantuk.
“Kalau pasar-pasar itu bersih, nyaman, pembeli akan datang,” lanjutku.
“Ibu-ibu akan rajin ke pasar untuk memembuat masakan yang lezat buat suaminya. Suami akan menikmati momen-momen mengantarkan ibu-ibu berbelanja. Ketimbang nongkrong di depan komputer, mengamati dan menulis di jejaring sosial, blog-blog, termasuk kompasiana.com ini. Itulah caranya kita memaknai dana 6,7 triliun itu.”
Mendadak aku merasa kalimat yang terakhir terasa janggal. Apakah aku salah dalam merancang pidato ini, rasa-rasanya catatan itu sudah kuperiksa berulang-ulang. Tiba tiba pandanganku menjadi kabur, semakin kabur. Ahhh.
***
Podium sudah lenyap. Tapi kertas itu masih ditangan kananku. Sayup-sayup kudengar Alya anak tetangga sudah membunyikan sepedanya yang berdengung-dengung. Sesekali ia berteriak menyeru kawannya yang lain.
Cahaya pagi menerobos lubang angin dan menerangi kertas yang kupegang. Selembar catatan dari istriku.
“Mas, Dede aku titipin di Bulik, Mas dibangunin susah banget. Lagian ngapain nulis sampai begadang. Aku ke pasar. Cintamu. muach.”
Jam. 9.30. Wah, gawat, terlambat ngantor nih. Buru buru aku gosok gigi, cuci muka.
Aku sudah di depan rumah dan membunyikan sepeda motor, ketika istriku mendekatiku. Keranjang di tangan kanannya dan lelaki kecil digendongannya. Wajahnya berseri-seri ketika ia bertanya, “Mau kemana, Mas? ”
“Kok kemana, ya ke kantor lah. Sudah terlambat nih,” jawabku.
“Ini kan hari Minggu,” sahutnya, ia pun berlalu menuju pintu dapur.
Di gendongannya, anak delapan bulan menoleh padaku dan tersenyum.
Pondok Aren, 16 Januari 2010
(Disclaimer: Tulisan di atas hanyalah fiksi semata, kesamaan antara figur di dalam cerita dan di dunia nyata terjadi secara kebetulan)