Pengumpan:
Tulisan
Komentar

Tuhan, Gerimis dan Presiden

presiden (detik.com)

presiden (detik.com)

Gerimis pada pagi basah, di lapangan Monas, hari Sabtu tiga belas Februari dua ribu sepuluh. Langit dilukisi awan putih dan kelabu, sembunyinya mentari membuat hari setengah terang saja. Angin semilir, menggugur tetes air dari dedahan dijejak burung-burung yang enggan kedinginan.

Saat khidmat untuk bersembunyi di balik selimut, membakar kelelahan akhir pekan menjelang tahun baru Imlek.

Tapi tidak demikian lelaki itu.

Dimantapkan langkah kakinya menuju podium, ditatapnya ribuan muka di depannya, dan diyakinkan kesungguhan di wajahnya sendiri.

Tentang gerimis dan hujan, ia berkata,

“Alhamdulillah, meskipun pagi ini gerimis hujan datang, dan semoga pagi ini hujan barokah. Ini menandakan bahwa Allah SWT meridhoi niat dan cita-cita baik kita dalam zikir dan doa untuk negeri yang sama-sama kita cintai. Insya Allah sekali lagi hujan ini adalah barokah dan anugerah dari Allah SWT,”

Ia adalah Dr. Susilo Bambang Yudhoyono, presiden Republik Indonesia, yang berpidato di depan ribuan umat yang dinamakan Majelis Dzikir Nurussalam.

Sering memang, kejadian alam mengundang tafsir tertentu. Lagi pula, dzikir akbar itu dihadiri oleh habaib (para keturunan Nabi Muhammad SAW). Bagi sebagian orang, habaib memiliki kedudukan spiritual yang khusus. Tidak berlebihan Pak Presiden menafsirkan hujan di lapangan yang banyak habibnya itu sebagai barakah.

Namun rupanya, dalam menafsir hujan, para habib itu malah sedikit berbeda dengan Pak Presiden. “Pindahkan hujan dari tempat ini. Jadikan tempat ini tempat yang maslahat bagi kami,” ujar seorang habib, yang diikuti dengan “Aamiin” dari hadirin.

Para habib itu, malah tidak sekebatinan Pak Presiden yang orang Jawa, dalam menafsirkan kaitan hujan dan sekerumunan manusia di lapangan. Perlu diketahui, dalam filosofi Jawa, prihatin adalah dengan menderita, demi suatu kejayaan di masa mendatang. Jangankan sekedar kehujanan, dari berpuasa mutih, berendam di telaga bermalam-malam, bahkan konon ada yang puasa empat puluh hari empat puluh malam.

Tidak seperti orang Jawa yang secara natural memaknai penderitaan, para habib itu mungkin saja berpikir sepragmatis ini: hujan itu dapat menyebabkan hadirin masuk angin sepulangnya. Dan barakahnya hanya bisa difahami apabila kita memperhitungkan warung-warung yang menjual obat flue, produsen obat-obat flue dan dokter yang dibayar untuk menyembuhkan flue.

Islam memang memiliki sisi-sisi kebatinan (tasauf), tapi bagi yang mendalaminya, akan mudah menemukan sisi-sisi pragmatisnya.

***

Di Jakarta juga, bahkan beberapa jam sebelum para pedzikir itu berkumpul, sekian kilometer dari kesyahduan rumput basah di lapangan itu, ada orang-orang yang tidak perlu berpikir mendalam untuk menafsirkan hujan. Karena Tuhan telah menyibakkan makna hujan itu sejelas-jelasnya.

Sejelas gemericik air yang mengalir di bawah kasur dan sedingin rasa kepala bila air telah menembus bantal. Mereka adalah para penghuni bantaran Kali Ciliwung yang membelah ibukota.

Pukul 03.00 dinihari, sepertiga malam yang terakhir, adalah saat dzikir paling didengar Tuhan bagi umat Islam. Namun saat itu juga hujan-Nya lebih deras di kota-kota lain sekitar Jakarta. Di pagi buta banjir kiriman dari Bogor sudah menerjang kawasan Kalibata. Memang kawasan itu adalah “langganan banjir”, bahkan kita – atau para penghuni itu pun, tidak pernah kaget dengan kenyataan itu. Dan seolah tiada perlu merasa kaget.

Nampaknya kita sering mendoakan para pahlawan, namun lupa untuk berdoa agar kawasan di sekitar makam mereka tidak terlalu sering dikunjungi banjir.

Di Rawajati, Pancoran, banjir di pagi itu setinggi paha orang dewasa. Masih untung, karena yang ditakuti warga Pancoran tentunya adalah banjir yang setinggi lutut Patung Pancoran.

Di Kampung Pulo, Kampung Melayu, sebelum subuh para warga melakukan “ritual tahunan” untuk menyelamatkan diri dan harta benda dari derasnya air, ke sekolah, rumah sakit, atau gereja. Tempat-tempat yang dikasihi Tuhan.

Di atas hanya sekelumit berita banjir di Ibukota. Banjir-banjir di kota lain, bahkan yang meminta korban jiwa, dapat kita saksikan sembari sarapan. Bukan hanya hari itu saja.

Tidak salah menafsirkan hujan sebagai barakah. Nyatanya, bagi para petani, di saat-saat tertentu, hujan memang dirindukan. Demikian pula di pembangkit listrik di waduk-waduk, hujan adalah berkah untuk menyalakan lampu-lampu.

Namun apabila gerimis telah sering menjelma banjir, selain doa dan dzikir, kiranya perlu muhasabah (evaluasi diri), ikhtiar (kerja keras) dan mujahadah (bersungguh-sungguh) untuk dapat memaknai hujan sebagai barokah. Bukan Presiden saja, bukan para habib, bukan satgas anti mafia perbanjiran saja, banjir adalah urusan kita semua, urusan NKRI.

Memang seperti pada pidato-pidatonya, termasuk di lapangan monas itu, presiden kita adalah seorang jendral yang jeneralis, memikirkan hal-hal yang umum dan abstrak, dan menyukai pendekatan tidak langsung terhadap masalah. Gemar mempercayakan masalah pada yang bertanggung jawab, atau membentuk tim untuk bertanggungjawab pada suatu masalah.

Mudah-mudahan saja, seruan dizikir di lapangan Monas itu, terpancar juga ke udara, menyelinap ke balik awan dan terdengar di arsy Allah, dzat yang bertanggung jawab akan hujan dan gerimis, dan kuasa memutar-mutar hati. Hingga Ia menggugah hati kita untuk lebih cermat membaca gerimis dan menyadari pentingnya mencegah dan memberantas banjir. (PCL).

Artikel ini diterbitkan pula di Blog Sahabat Debu dan Kompasiana

Presiden 6.7 T

Jam 7.30. Pak Guru belum hadir. Di sebelah kanan, murid-murid perempuan sudah berdengung seperti pasar Jumat. Anak-anak lelaki saling melempar potongan kapur tulis. Beberapa membaca komik. Ada yang menguap. Ada yang berbisik-bisik.

Pak Guru muncul dari pintu, dengan rambut klimis dan seragam yang pudar namun rapi. Seperti polisi yang membuat terdiam seluruh kelas. Udara wangi bercampur keringat, menegaskan keberadaannya.

Ia meletakkan tas tua di atas kursi. Mengambil kapur tulis dan menulis hati-hati di papan. Anak-anak sedikit lega, berbisik-bisik lagi, berisik lagi.

Pak Guru berbalik. Seketika semua diam dan mata-mata terjaga.

“Tulis jawabannya di kertas dan kumpulkan di meja saya. ” Suaranya tegas seperti seharusnya. Kemudian ia mengambil tas, beranjak pergi lalu hilang melalui pintu itu lagi.

Tulisan dari zaman orde lama di atas papan hitam.

Pelajaran mengarang.
Seandainya anda terpilih menjadi Presiden, dan diberi 6,7 triliun, untuk dibelanjakan pada 100 hari yang pertama, apa yang akan anda lakukan. (Catatan: Tidak diperbolehkan diinvestasikan pada bank yang mati atau hampir mati, sebab dengan cara itu dana tersebut sudah pasti, akan ditarik oleh nasabahnya. Yang mengakibatkan dana tersebut habis, dan terpaksa anda harus memulai dari nol, agar bank tersebut laku dijual tiga tahun berikutnya, untuk harga yang belum ditentukan ). (Keterangan, 1 triliun = seribu miliar, 1 miliar = seribu juta). Selamat mengerjakan.

Anak-anak terdiam sebentar, mengamati papan tulis. Muka mereka bertanya-tanya. Tak lama kemudian keramaian sudah meliputi ruang kelas. Bunyi kertas-kertas disobek riuh. Semakin gaduh. Lalu sunyi.

***

Lampu kilat bersahutan menyilaukan.

Ruang sudah tertata rapi, bendera negara bertegak wibawa, di tepi dinding yang ada gambarku sendiri, dan wakilku. Wakil presiden dan para menteri duduk di kursi-kursi. Para wartawan berdesakan di balkon belakang. Aku memasuki ruang itu seperti guru yang ditunggu-tunggu murid-muridnya.

Aku melangkah mendekati podium, dengan pikiran dan hati yang pasti. Serapi jas, dasi dan celana yang kugosok ulang pagi ini.

Kuperbaiki posisi mikrofon, kuketuk-ketuk, kutebarkan pandangan ke kiri dan ke kanan, memeriksa kalau ada lalat yang masih berkeliaran maupun bawahan-bawahan yang mengantuk. Kurogoh saku kananku dan kukeluarkan catatan yang aku susun tadi malam.
sang presiden
“Saudara-saudara,” suaraku membuka suasana.

“Sehat?” Tanyaku.

“Sehaaat …,” serempak hadirin menjawab. Senyum-senyum di wajah mereka.

“Bagaimana perjalanan anda pagi ini. Lancar?”

“Lancaaar…,” jawab mereka.

Aku menunggu sejenak sampai suasana tenang.

“Ya, terang saja. Soalnya Pak Polisi sudah menertibken daripada jalan anda, sehingga perjalanan anda lancar. Bayangken seandainya anda ke sini sebagai masyarakat biasa. Karena kemacetan yang sistemik di ibukota ini, saya jamin anda akan terlambat semua.”

Hadirin pun memandang penuh rasa ingin tahu.

“Untuk memperlancar daripada perjalanan anda, kemarin sempat saya rencanaken membeliken mobil-mobil dinas yang baru untuk saudara-saudara. Yang lebih cepat, lebih aman, dan lebih nyaman daripada mobil dinas yang ada sekarang. Saya yakin saudara-saudara senang atau setuju dengan hal tersebut,” lanjutku.

Muka-muka berseri-seri. Hanya para wartawan di belakang yang tetap khidmat.

“Tapi tadi malam saya pikir-pikir lagi soal ini.” Beberapa orang mengeriyitkan dahi, sebagian tetap berseri-seri.

“Saya menemuken cara lain agar perjalanan Saudara-saudara ke sini lebih cepat, efisien, efektif dan menghemat anggaran secara mikro maupun makro.”

Sekarang semua orang khidmat.

“Saya, Presiden republik ini, akan mengurangi atau menghilangken daripada sumber kemacetan itu sendiri.”

Kutebar pandangan ke seluruh ruangan. “Coba kira-kira tempat-tempat mana saja yang membuat jalan macet, silahken dijawab.”

Salah satu hadirin, wakil presiden, mengacungkan jarinya dan menjawab. Aku yakin itu jawaban yang akurat, sayangnya tidak kedengaran.

“Coba saudara wakil presiden maju, ke sini”, kataku. Aku pun mengarahkan mikrofon. Wakil presiden menyorongkan wajahnya ke arah mikrofon, dan melihat ke kamera.

“Lampu merah, Pak,” jawabnya yakin dengan senyum yang khas.

“Bagus, jawaban yang baik.” Kataku. “Silahken bertepuk tangan. Bangsa yang besar adalah bangsa yang mampu menghargai prestasi sekecil apapun.” Hadirin pun bertepuk tangan riuh.

“Terimakasih saudara wapres, silaken kembali ke tempat duduk.” Wapres dengan santai melirik ke kamera-kamera, memberi senyumnya yang malu-malu, lalu kembali ke tempat duduk.

“Yang lain lagi? Tempat tempat mana saja yang potensiil menyebabkan kemacetan?” lanjutku.

Hadirin terdiam beberapa saat, seperti memikirkan hal-hal yang sulit.

Tiba-tiba pintu terbuka. Rupanya salah seorang menteri terlambat. Hrrgh. Pikirku. Hari gini seorang menteri terlambat. Benar-benar tidak reformis.

“Di pasar macet Pak,” katanya sembari tergopoh depan podium, dan membuka kedua telapak tangannya sendiri. Seperti pemain bola yang tidak mengaku salah.

“Hmm, jawaban yang bagus. Tepuk tangan yang meriah.” Tepuk tangan pun meriah.

Pak Menteri merah padam dan berkerut-kerut, merasa disindir. Lalu ia mengambil mapnya yang jatuh saat ia menjawab tadi, dan menentengnya menuju sebuah kursi kosong.

“Inilah kata kunci hari ini, pasar. Pasar yang macet,” kataku tegas.

“Sudah lama kita memprioritasken pembangunan semesta pada indikator-indikator yang makro dan ilmiah seperti GDP, GNP, nilai tukar, nilai saham-saham, rasio-rasio dan nilai-nilai lainnya. Tapi tidak juga perkembangan negara ini memuasken. Baik menurut pandangan kita maupun pandangan dunia. Dan semangkin ke sini, perkembangannya semangkin tiada menggembiraken.”

“Untuk itu kabinet ini akan menggunaken pendekatan yang sama sekali lain.“

Aku berhenti sejenak, membiarkan hadirin mencerna kata-kataku.

“Saudara ingat nasihat Aa Gym, penasehat spiritual saya? Beliau selalu mengataken: mulai dari diri sendiri, mulai dari hal-hal yang kecil dan mulai sekarang juga.”

“Sekarang, kita mulai dari hal yang kita anggap kecil yang ada dalam diri kita, yaitu pasar .”

“Lebih tepatnya, pasar tradisional. ”

“Perekonomian kita, selama berabad-abad telah ditopang oleh pasar tradisional. Pasar yang tidak hanya ramai, efisien, efektif, mensejahteraken, membahagiaken tetapi juga 256% sejalan dengan tradisi, budaya dan ruh dan elan vital bangsa kita. ”

“Namun di zaman mutakhir ini, peran pasar-pasar rakyat semangkin tergusur, bukan hanya oleh paserba-paserba dari luar yang canggih dan sistemik, tetapi dari cara kita melupaken daripada pasar itu sendiri.“

“Kita membuat gedung-gedung yang mencakar langit, monumen-monumen yang megah, bandara-bandara yang mewah, jalan-jalan yang bertumpuk-tumpuk, jembatan yang melintasi dua tiga pulau, tetapi kita lupa daripada membangun pasar-pasar itu.”

“Hari ini, pasar-pasar tersebut banyak yang terlantar. Kalaupun dibangun, didominasi kios-kios yang tidak terjangkau oleh para pedagang, atau diletakkan paserba besar di dalamnya. Akhirnya pedagang-pedagang kecil tergusur ke gang-gang, ke emper-emperan, trotoar-trotoar bahkan jalan-jalan. Padahal pada semula pedagang cuma bayar karcis saja untuk berjualan di dalam pasar. Celakanya di tempat-tempat yang terpinggirkan tersebut, masih juga pedagang-pedagang tersebut harus membayar markos (makelar kios) dan pungli.”

“Maka daripada itu, untuk membangkitken daripada budaya ekonomi itu, hari ini saya perintahken pembenahan pasar tradisional, atau pasar rakyat, dengan dana yang ada ini yaitu 6.7 triliun.”

“Sepuluh miliar untuk setiap pasar. Jadi paling tidak kita dapat memperbaiki daripada 670 pasar, yang tersebar di pusat dan pelosok-pelosok ibukota ini.”

“Kita prioritasken dulu pasar di Ibukota dan sekitarnya, karena tempat ini menentuken pencitraan kita di dunia internasional. Pasar-pasar tersebut akan menjadi proof of concept, dari program revitalisasi ini . Nantinya, 100 hari kemudian akan saya perintahken daerah-daerah mencontoh apa yang kita lakuken, baik di bagian barat maupun di bagian timur, dengan APBD masing-masing.”

“Kita pugar bagian tengah pasar yang rata-rata telah menjadi kios-kios besar yang sewanya mahal. Buka kembali menjadi ruang yang secara ekonomis terjangkau masyarakat banyak. Sehingga pedagang-pedagang sayur, bumbu, buah, es, gado-gado, soto, somay dan kakilima-kakilima lain, dapat kembali berjualan di sana lagi. Jangan hanya diisi pedagang-pedagang berduit seperti emas, pakaian, barang elektronik apalagi pedagang saham.”

“Pasar-pasar itu bukan habitat daripada Paserba-paserba atau supermarket. Kalau ada di dalemnya terkandung jenis-jenis usaha tersebut, pindahken ke tempat lain sejauh-jauhnya. Kita akan keluarkan perpu mengenai itu.”

“Bangun gudang-gudang dan terminal bongkar muat yang memadai untuk pasar-pasar itu. Komite pemberantasan korupsi harus melaporkan berbagai bentuk pungli dan terorisme di sektor transportasi, untuk ditindaklanjuti yang berwajib.”

“Bila tidak muat juga untuk pedagang-pedagang itu, kita bebasken lahan sekitarnya dan kita perluas pasarnya.”

“Saya akan perintahken para arsitek untuk merancang bangunan pasar yang ideal, sebagaimana yang dilakuken Pemerintah penjajahan dahulu ”

“Kita bentuk Komite Nasional Stabilitas Pasar Tradisional yang terdiri dari para pakar. Untuk bekerja sama dengan perusahaan-perusahaan pasar daerah dan pihak-pihak yang terkait. Mengelola pasar-pasar itu dengan profesional, konstitusional, higienis dan penuh nasionalisme.”

“Kita berantas pungli-pungli di pasar. Kita bentuk satgas pemberantasan pungli sehingga tidak ada lagi ekonomi biaya tinggi.”

“Pasar-pasar itu akan menyerap tenaga kerja yang lebih besar baik pada saat pembangunannya, maupun sehari-harinya. Petani-petani akan mudah menjual dagangannya, sopir-sopir akan banyak muatannya, kuli angkut makin laris dan masih banyak lagi. Dengan mensejahterakan mereka, sejahtera juga pendidikan anak-anak Indonesia.”

“Kemudian akan melahirkan pemimpin-pemimpin Indonesia masa depan.”

“Insyaallah, apabila pasar-pasar tradisional itu tertata dan terbuka kembali bagi semua lapisan masyarakat, tidak tumpah lagi pasar-pasar itu. Tidak lagi membuat kemacetan. Sehingga saudara tidak perlu terlambat lagi.”

“Dampak sistemik yang luar biasa, bukan?” Hadirin manggut-manggut. Tidak ada yang mengantuk.

“Kalau pasar-pasar itu bersih, nyaman, pembeli akan datang,” lanjutku.

“Ibu-ibu akan rajin ke pasar untuk memembuat masakan yang lezat buat suaminya. Suami akan menikmati momen-momen mengantarkan ibu-ibu berbelanja. Ketimbang nongkrong di depan komputer, mengamati dan menulis di jejaring sosial, blog-blog, termasuk kompasiana.com ini. Itulah caranya kita memaknai dana 6,7 triliun itu.”

Mendadak aku merasa kalimat yang terakhir terasa janggal. Apakah aku salah dalam merancang pidato ini, rasa-rasanya catatan itu sudah kuperiksa berulang-ulang. Tiba tiba pandanganku menjadi kabur, semakin kabur. Ahhh.

***

Podium sudah lenyap. Tapi kertas itu masih ditangan kananku. Sayup-sayup kudengar Alya anak tetangga sudah membunyikan sepedanya yang berdengung-dengung. Sesekali ia berteriak menyeru kawannya yang lain.

Cahaya pagi menerobos lubang angin dan menerangi kertas yang kupegang. Selembar catatan dari istriku.

“Mas, Dede aku titipin di Bulik, Mas dibangunin susah banget. Lagian ngapain nulis sampai begadang. Aku ke pasar. Cintamu. muach.”

Jam. 9.30. Wah, gawat, terlambat ngantor nih. Buru buru aku gosok gigi, cuci muka.

Aku sudah di depan rumah dan membunyikan sepeda motor, ketika istriku mendekatiku. Keranjang di tangan kanannya dan lelaki kecil digendongannya. Wajahnya berseri-seri ketika ia bertanya, “Mau kemana, Mas? ”

“Kok kemana, ya ke kantor lah. Sudah terlambat nih,” jawabku.

“Ini kan hari Minggu,” sahutnya, ia pun berlalu menuju pintu dapur.

Di gendongannya, anak delapan bulan menoleh padaku dan tersenyum.

Pondok Aren, 16 Januari 2010

(Disclaimer: Tulisan di atas hanyalah fiksi semata, kesamaan antara figur di dalam cerita dan di dunia nyata terjadi secara kebetulan)

Bukan Genjer-genjer

arit, alat pertanian
arit, alat pertanian

Sejenak kita lupakan kekhawatiran tentang uang kita yang ada di ATM, dari pencuri-pencuri gentayangan, sebab BI dengan cadangannya yang melimpah sudah menjamin simpanan kita. Hanya sering-seringlah memeriksa saldo anda, agar apabila ada kejanggalan bisa secepatnya anda laporkan.

Kehilangan uang keringat bertahun-tahun adalah musibah. Tetapi ada musibah yang lebih besar dari itu, dan dapat dialami secara massal oleh masyarakat, yaitu, kehilangan nasib.

Sore itu adalah hari yang terang di awal tahun dua ribu sepuluh.

“Kamu anak Hardi?” Laki-laki tua itu setengah menghardik ketika menjabat tanganku. Sebenarnya ia sedang berusaha meyakinkan bahwa ia adalah orang yang harus dihormati. Karena Bapakku, Hardi, sudah berumur tujuh puluh lima tahun, dan seorang pensiunan guru.

“Ya, Mbah”. Jawabku.

“Sini, Le, kupagari sekalian”.

Aku hanya menebak maksudnya. Ia menyuruhku mengambil sebuah kursi dan menyuruhku duduk di atasnya. Setelah aku duduk tenang, ia mengurut kepalaku.

“Bismillah …..”. Ia pun merapalkan mantera-mantera yang tidak aku dengar.

Beberapa lama kemudian ritual itu selesai.

“Nanti ada bacaan-bacaan yang harus kamu amalkan.” Katanya.

Ia pun duduk kembali di kursi tamu. Aku pun duduk dan berbincang-bincang sejenak dengan Si Mbah.

Si Mbah, adalah seseorang yang memiliki kekuatan yang lebih dibanding orang-orang biasa. Setidaknya secara fisik. Di usianya yang mendekati delapan puluh tahun, tubuhnya masih tegap kekar dan sorot matanya tajam, seperti seorang tentara.

Dulunya memang ia seorang tentara.

Ia menunjukkan foto Presiden Soekarno yang sedang sungkem pada ibunya.

“Ini Bu Ida, ” Katanya. Ibunda Soekarno memang bernama Ida Ayu Nyoman Rai, seorang keturunan bangsawan Bali.

“Lihat foto ini, aku salah satu yang ada di belakangnya ” Katanya bangga. Tetapi, aku tidak yakin benar tentang hal itu.

“Ada tiga marinir yang diberi wasiat ini (foto tersebut, beserta warisan supranatural). Yang dua sudah meninggal, tinggal aku saja. “

Syukurlah, Mbah. Mbah masih sehat hingga sekarang, kataku dalam hati. Mengenai warisan supranatural itu, aku kurang percaya.

Pada saat aku pamitan dari rumah Ibu mertua, aku merogoh selembar uang duapuluh ribu rupiah, dan kutitipkan pada Ibu untuk diberikan pada Si Mbah.

Kata Bapak, Si Mbah, adalah anggota KKO, dan tergabung dalam resimen khusus Cakrabirawa. Pasukan pengawal Presiden, paspampres zaman dulu. Setelah 1965, ia pernah pulang kampung, untuk menjadi buruh serabutan. Ia dapat mencangkul lahan dua kali lebih cepat dari orang biasa. Ia bisa memindahkan gundukan pasir lebih banyak dalam waktu yang sama.

Sudah lama ia hidup dari kota ke kota, membagikan berkah supranaturalnya itu, yang entah berkhasiat atau tidak. Bagi yang dikunjungi, sesungguhnya itu adalah isyarat agar mereka memberikan sepuluh-duapuluh ribu untuk menyambung hidupnya yang senja.

Ia hanyalah secuil kisah. Dari berbungkah-bungkah kisah para wong cilik di desaku. Yang harus direnggut nasibnya oleh sebuah peristiwa di malam temaram 1965. Orang-orang menamainya gestok, gerakan satu oktober. Peristiwa itu menjadi penanda waktu yang penting, untuk menentukan kapan kejadian-kejadian lain terjadi. Misalnya, kakak perempuanku lahir satu tahun setelah gestok, berarti 1966. Seseorang meninggal dua tahun sebelum gestok, berarti 1963 dan seterusnya.

Di masa-masa kecilku, aku tahu Bapak sering membantu mengurusi berkas-berkas kelahiran anak-anak desa yang bapaknya terlibat. Anak-anak tersebut orang tuanya diganti dengan orangtua yang bersih, tidak terlibat. Ini dimaksudkan agar anak-anak tersebut tidak terhalang dalam soal sekolah dan usaha menjadi pegawai negeri, suatu cita-cita umum di desa. Yang disebut terlibat adalah, orang-orang yang namanya tercantum secara sadar atau tidak sadar di daftar hitam yang disita dari kantor BTI (Barisan Tani Indonesia), sebuah organisasi underbow PKI.

Waktu itu BTI memang organisasi biasa, dimana aparat desa yang tergabung mendaftar para warga seperti mendaftar arisan. Warga desa, yang rata-rata buta huruf tidak akan menyangka bahwa selembar kertas akan membelenggu nasib mereka sampai puluhan tahun kemudian.

Bukanlah Bapak simpatisan PKI. Ia adalah seorang marhaen, dan Ibu anggota Aisyiyyah, jamaah ibu-ibu Muhammadiyah. Di hari hari menjelang peristiwa itu, Pak Camat yang condong ke PKI datang ke rumah membawakan pistol, karena bapakku menentang pengambilan tanah-tanah desa oleh BTI. Di hari-hari itu pula, konon pintu rumah disilang merah oleh orang tak dikenal.

Bapak hanyalah mata saksi sejarah apa adanya, dan ia tidak harus menjadi pendendam.

***

Pagi hari, aku berjalan-jalan mendorong anakku, sampai di pertigaan. Jalan kabupaten teraspal mulus, dengan deretan toko-toko di belakangnya. Toko-toko itu menjual bahan bangunan, alat-alat listrik, telefon genggam, pulsa dan apapun yang menandai kemajuan.

Si Mbah ada di seberang jalan berdiri tegap memandang kejauhan. Ia melambaikan tangannya, akupun membalasnya.

Sejenak kemudian sebuah bus berhenti di depannya, menutupi pandanganku. Ketika bus itu pergi, Si Mbah sudah tidak ada di tempatnya.

Hanya asap yang semakin menjauh, dari punggung bus yang membawa Si Mbah ke kota-kota yang pernah menjadi mimpinya.

Secara teknis para ekonom sepakat bahwa bank Century kala itu, amat tidak sistemik. Tapi tidak perlu menjadi seorang ekonom untuk menentukan apakah Bank Century sistemik atau tidak sistemik. Sebab Pak Boediono, sang profesor, punya alasan lain untuk mengatakan bahwa bank Century sistemik, yang sulit dibantah yaitu: psikologis.

Siapakah yang dapat menjamin masyarakat tidak panik bila bank Century dilikuidasi? Berhubung tidak ada yang menjamin, termasuk para psikolog, kiranya Tuhan saja yang dapat menjamin. Sayangnya Tuhan tidak gemar berkomunikasi langsung dengan para pengambil kebijakan. Jadinya soal jamin-menjamin ini tetaplah misterius.

Bahkan untuk menjamin apakah Pak Esbeye yang bershio kerbau akan langgeng pada tahun macan logam ini, saya rasa tidak ada orang yang bersedia. Pertama tama karena tidak banyak orang yang berprofesi paranormal, kedua karena paranormal pun tidak memiliki akurasi 100%, ketiga karena urusan jamin-menjamin tersebut tidak ada manfaatnya. Lebih baik orang memikirkan jaminan sosialnya sendiri-sendiri.

Baiklah kita tidak tahu rahasia jamin-menjamin itu, tapi bolehlah kita ikut bicara psikologi, sebab katanya setiap orang adalah psikolog amatir. Dan karena psikolog amatir adalah psikolog, setiap orang adalah psikolog.

Ada anekdot untuk saya ceritakan di sini.

Di suatu hari yang cerah di sorga, apabila Adam dan Hawa masih boleh bercengkarama di bawah pohon-pohon terlarang, terdengar langkah-langkah Tuhan mengetuk bergema, sebelum Ia bicara,

Tuhan : “Adam …”
Adam : “Hamba, Tuhanku”.
Tuhan : “Hari ini aku akan memberimu satu kabar gembira, dan satu kabar buruk“.
Adam : “Mohon katakan itu, Tuhanku. Tak sabar aku mendengarnya”
Tuhan : “Kabar gembiranya, Aku akan memberimu dua buah organ tubuh.”
Adam : “Tak kuasa aku tampik kemurahan Mu, o, Tuhan. Apakah yang dua itu?”
Tuhan : “Yang pertama adalah otak. Dengan otak engkau akan bisa berpikir. Engkau bisa mengingat, engkau bisa belajar, engkau bisa menimbang, mengambil kesimpulan dan memecahkan masalah”
Adam : “Terimakasih, Tuhanku”
Tuhan : “Yang kedua yaitu penis. Dengan itu engkau bisa bersenang-senang dengan Hawa dan memperoleh keturunan.”
Adam : “Dua anugerah yang luar biasa, Tuhanku. Lalu apakah kabar buruk itu?”
Tuhan : “Kabar buruknya adalah, dua organ itu tidak bisa kamu gunakan pada saat bersamaan.”

Kalau anda sudah berhenti tertawa, atau sudah cukup menyesalkan kelancangan anekdot di atas, marilah kita lanjutkan.

Kiranya hikmah dari cerita tersebut adalah, bahwa rasionalitas dan syahwat tidaklah rukun: syahwat mengancam rasionalitas. Untuk memperkuat cerita tersebut, sebenarnya ada hadits yang mengatakan “Apabila dzakar berdiri, pikiran tinggal sepertiga”. Soal kesahihannya, tanyakan pada ahli hadits, sebab saya cuma tukang cerita. Tapi makin jelaslah bagaimana tidak rukunnya dua organ itu.

Satu hal yang belum disebut Tuhan dalam cerita itu yakni akal manusia, selain dapat melakukan pertimbangan (rasio), juga dapat melakukan yang akan sering ia lakukan yaitu: rasionalisasi. Bukan dalam pengertian para ekonom, dimana rasionalisasi adalah pengurangan karyawan untuk menyehatkan korporasi.

Tapi rasionalisasi dalam arti mencari alasan, atau merasional-rasionalkan.

Sebagaimana kita terbiasa, alasan adalah sesuatu yang penting. Kita sudah belajar
mencari alasan semenjak dini, ketika sebagai makhluk kecil kita sering dipersalahkan. Yang
semakin berkembang seiring sekolah yang mengajarkan anak-anak logika. Lalu karena guru-guru, atasan, istri atau suami hanya menerima penjelasan logis atas kelemahan dan kesalahan kita.

Soal mencari-cari alasan ini, ternyata juga istilah dalam ilmu psikologi. Inilah yang saya baca di diktat “Dasar-dasar Ilmu Kedjiwaan” milik paman saya yang kuliah di psikologi dan sekarang jadi guru konseling di sebuah SMA.

Diri kita memiliki mekanisme-mekanisme pertahanan diri. Tanpa mekanisme pertahanan diri tersebut, niscaya bangunan psikologis diri kita akan runtuh. Mekanisme pertahanan banyak jenisnya, dan rasionalisasi adalah salah satunya.

Misal ketika anda gagal dalam ujian, anda akan menjelaskan kepada diri anda, bahwa itu karena anda sedang tidak sehat. Memang betul bahwa saat tersebut anda tidak sehat.

Tetapi coba ingat kembali, apakah benar anda duduk memperhatikan pada saat pelajaran? Apakah sebelum ujian yang gagal tersebut, anda sudah belajar dengan cukup? Apakah anda sakit karena banyak baca buku atau karena kebanyakan nonton bola?

Terlepas dari jawabannya, anda tetap dapat membuat penjelasan bahwa sakitlah yang menyebabkan kegagalan anda. Ini disebut rasionalisasi.

Bahwa satu hal dapat diakibatkan oleh banyak faktor, atau dijelaskan dengan berbagai cara, itulah yang memungkinkan rasionalisasi.

Saya yakin rasionalisasi sering digunakan secara luas, lebih luas dari yang dijelaskan oleh buku kecil ilmu kedjiwaan tersebut. Yakni ketika kita membawa rasionalisasi ke alam komunikasi.

Suatu hari saya bertanya kepada Suster, mengapa setengah jam dari jadwalnya, Dokter belum juga datang. Jawab Suster, macet di jalan. Macet memang menyebabkan keterlambatan. Sebuah kebenaran rasional.

Tetapi di kota yang setiap saat dan tempat macet, seharusnya seseorang berangkat dengan memperhitungkan kemacetan tersebut. Jadi jawaban suster tersebut adalah rasionalisasi. Si Suster telah menggunakan rasionalisasi untuk menenangkan diri saya, menjaga reputasinya sebagai penjawab, dan membela citra dokter dan rumah sakit.

Penjelasan yang sesungguhnya mengapa Dokter terlambat, mungkin saja tidak diketahui oleh si Suster. Bisa jadi anak dokter sakit, mungkin saja dokter ketiduran, istri dokter lupa mencuci seragam dll. Yang jelas, sebuah argumen rasional telah digunakan oleh si suster untuk menutupi fakta yang sesungguhnya.

Demikian pula alam komunikasi politik dipengaruhi oleh medan-medan syahwat (baca: kepentingan) dimana kita dapat mempertanyakan rasionalitas dari argumen-argumen yang nampak. Misal, apakah benar BLT dikeluarkan untuk semata-mata membantu orang miskin. Ataukah “membantu orang miskin” hanyalah alasan untuk memperoleh penguatan popularitas, dengan mengorbankan anggaran pemerintah yang dibiayai hutang, dengan kata lain, hanyalah rasionalisasi?

Soal BLT di atas hanya sekedar ilustrasi, untuk memperdebatkannya, adalah di luar tulisan ini.

Kembali ke soal bank Century. Dapat dipastikan keputusan penyelamatan bank Century, sesuatu yang menyangkut uang triliun-triliunan, dipengaruhi oleh medan syahwat yang besar pula, siapapun orang-orang itu.

berpikir

Saya yakin seorang ‘liberal’ yang terdidik seperti Pak Boediono, yang lebih percaya pada tangan Tuhan di pasar-pasar, dengan pertimbangannya yang jernih akan melihat bahwa fenomena kematian bank yang dirampok oleh pemiliknya, hanyalah sunnatullah yang sedang mengoreksi keadaan yang salah. Menyelamatkan bank tersebut adalah dosa. Sebaliknya untuk membiarkannya mati, lalu mengerahkan segala daya untuk menenangkan “psikologi masyarakat” agar menerima takdir tersebut adalah tugas suci.

Sama saja ketika pemerintah mencabut subsidi BBM, yang nyata-nyata akan mengonjang-ganjingkan psikis masyarakat, ternyata dilakukan juga, demi sehatnya tangan-tangan Tuhan itu. Sering tangan-tangan Tuhan itu harus dibiarkan, at any cost, dengan segala cara. Sayup kita ingat pemerintah berkata, “Ini adalah pil pahit demi sehatnya negeri di masa yang akan datang.”

Tetapi ketika Pak Boediono, mengatakan, “Secara psikologis Century sistemik, harus diselamatkan”, ia sedang menentang tangan Tuhan. Mana pil pahit itu, Profesor. Mana?

Sehingga memang harus diragukan, apakah argumen tersebut lahir dari rasio pak Boediono, atau sekedar rasionalisasi saja, untuk membela syahwat-syahwat yang belum muncul namanya.

Seribu tiga, seribu tiga.

Bukan salah judul. Kalau anda kebetulan terlahir di zaman yang cukup zadul (zaman dulu), anda mungkin ingat di pasar-pasar kaget dan terminal dijajakan barang murah seribu tiga. Sekarang di pasar yang sama, kita masih menjumpai barang-barang itu. Hanya ditawarkan dengan harga yang berbeda yaitu, “sepuluh ribu tiga“.

Walaupun untuk tiga barang harus bayar sepuluh ribu, masih juga menandakan murahnya barang-barang di negeri, khususnya yang impor dari Cina-cina itu. Tapi mengingat pada zaman dulu barang-barang itu disebut seribu tiga, kita juga boleh menghakimi hal ini sebagai inflasi. Yakni menurunnya nilai rupiah yang kita pegang dan kita cintai.

google)

bukan sepuluh ribu tiga (sumber: google)

Syukurlah bahwa Pemerintah dengan menteri-menteri yang bijaksana selalu berusaha meningkatkan pendapatan anda, baik kalau anda pejabat tinggi maupun rakyat biasa. Sehingga inflasi tersebut tidak terlalu menimbulkan dampak sistemik dalam penderitaan kita. Dan walaupun yang dulu seribu sekarang sudah menjadi sepuluh ribu, kita masih membeli tiga barang tersebut, dan masih berasa murah.

Tetapi ada lagi inflasi lain. Mudah-mudahan saja ini bukan pertanda bahwa inflasi sedang terjadi di seluruh sendi kehidupan bangsa kita yang sehat dan dinamis ini.

Inflasi yang satu ini terjadi tepat di depan Istana Merdeka. Bagi anda penjaja sepuluh ribu tiga itu, jangan gembira dulu. Ini bukan berarti di halaman Istana yang pagarnya baru dan asri, telah boleh anda menggelar lapak anda yang tidak sopan santun.

Mengenai halaman depan Istana itu, ada sebuah cerita.

Suatu saat Presiden Amerika Serikat, John F Kennedy, mengunjungi Soekarno di Istana Merdeka. Membanggakan kebebasan di negerinya, Kennedy bercerita, “Amerika menjunjung tinggi kebebasan. Di Amerika, kalau ada orang berdemo di depan Gedung Putih, menjelek-jelekkan Kennedy, tidak ditangkap.”

Soekarno, bapak negara kita itu, tak kurang akal menjawab, “Indonesia ini pun tidak kalah bebas. Di Indonesia, kalau ada orang berdemo di depan Istana Merdeka, menjelek-jelekkan Kennedy, juga tidak ditangkap.”

Maaf bila transkrip pertemuan kenegaraan di atas tidak akurat, atau kalau kejadian tersebut sepenuhnya lelucon saja.

Hari ini, sekian puluh tahun semenjak kejadian itu, seorang Presiden Amerika tak dapat lagi membanggakan hal yang sama terhadap Indonesia.

Terbukti pada demo peringatan 100 hari kepresidenan yang meriah, tidak ada yang ditangkap karena menjelek-jelekkan Presiden. Hanya sedikit gertakan (baca: early warning) dari Pak Presiden beberapa hari sebelumnya agar pasukan-pasukan pengawalan lebih waspada. Juga pengamanan standar seperti kawat berduri, polisi dan meriam-meriam air. Pada hari itu, dengan tertib kelompok-kelompok itu diatur untuk secara bergiliran menyampaikan unek-uneknya, aspirasi, dan sumpah serapahnya pada Pak Presiden.

Amatlah berbeda dengan belasan tahun yang lalu, di halaman istana yang sama, di zaman seribu tiga itu, yaitu zamannya Pak Harto.

Pada masa tersebut, unjuk rasa di depan istana, walau hanya sepuluh atau duapuluh orang, adalah sesuatu yang menggemparkan – karena bahaya yang terkandung pada aktifitas tersebut, bagi kewibawaan pemerintah dan keselamatan demonstran-demonstran itu.

Sikap represi rezim Soeharto rupa-rupanya malah dapat memaknai aksi demo itu sendiri. Yakni bahwa persoalan yang didemokan adalah penting, dan sikap mereka adalah sesuatu yang heroik. Saking pentingnya, sampai-sampai pemuda-pemuda itu berani mempertaruhkan nyawanya.

Di zaman Pak Harto demonstrasi adalah sesuatu yang tabu yang tidak boleh dilakukan atau diberitakan. Sehingga demonstrasi adalah sesuatu yang jarang. Ini juga turut memberi nilai pada aktivitas tersebut, karena kata ekonomi, sesuatu yang jarang harganya mahal.

Saat ini, unjuk rasa adalah tontonan sehari-hari. Kalau cuma ribuan orang, belum dianggap heboh. Bahkan kalau pun puluhan ribu, orang masih dapat mengklaim bahwa mereka hanyalah pihak-pihak yang kalah di pemilu yang lalu, dimana setiap pasangan kandidat memang didukung jutaan orang.

Lagi pula hari ini penguasa pun telah belajar banyak untuk menanganinya dengan baik. Bukan hanya dengan kawat duri dan meriam-meriam air. Misalnya, dengan mengerahkan demonstrasi tandingan. Rupanya unjuk rasa yang pada mulanya adalah sarana untuk menyampaikan aspirasi, ternyata dapat digunakan juga untuk menangkal unjuk rasa yang lain.

Ketika demo-demo itu semakin sering terjadi, maka harganya menjadi murah. Inflasi. Berbeda dengan inflasi pada nilai mata uang, inflasi yang ini disukai pemerintah, dan kabar duka bagi para pendemo.

Di sisi lain, penguasa akan menghindari kontak fisik dengan para pendemo dan memilih cara-cara lain. Karena seandainya kawat duri dan meriam air itu menciderai mereka, demonstrasi itu akan memperoleh kembali sebagian nilainya yang hilang.

Para pengunjuk rasa di depan Istana Negara, dan dimana saja, tidak lagi bisa memaknai suara lantangnya dengan tajamnya peluru dan kerasnya laras senapan. Dan ketika gemanya itu semakin sunyi, mereka harus berhadapan dengan jurus citra sang Presiden, dan kalkulasi para ahli di sampingnya, yang pernah mengantarkannya ke kursi kekuasaan.

Semoga saja, di bilik-bilik temaram di dalam istana itu, Pak Presiden dan para cendekiawan, bukan hanya berdebat untuk mengukur dan memastikan turunnya nilai suara-suara lantang, di jalanan, juga jalan di depan Istana Merdeka.

Baca juga :
Tuhan Tidur di Saku Pak Boediono
Bukan Genjer-genjer
Presiden 6.7 T

Ilustrasi/Admin (shutterstock.com)

Ilustrasi/Admin (shutterstock.com)

Berapi-api, tanpa ragu, demonstran itu berjelas, “Kami membawa kerbau bukan sebagai tanda, yang merepresentasikan SBY. Tetapi kami membawanya sebagai simbol. Simbol dari kekuasaan yang lamban dan ragu-ragu dalam mengatasi masalah bangsa“.

Demikian disaksikan di layar kaca, hari Rabu, 3 Februari silam. Mengatakan tanda dan simbol, nampaknya si demonstran telah terbiasa dengan ilmu tanda dan simbol yang ternama itu, semiotika dan hermeneutika.

Namun sekuat-kuat argumen demonstran itu, masih kuat juga pembenaran polisi, untuk mencegah kerbau itu turun gunung kedua kalinya. Kerbau itu pernah dipertunjukkan di demo yang 28 Januari kemaren, dan karena kesuksesannya, para demonstran ingin memamerkannya sekali lagi. Namun kerbau itu telah dihentikan di Kalimalang, Jakarta Timur, dengan alasan yang kurang meyakinkan. “Dikhawatirkan mengganggu kepentingan umum, bagaimana kalau kerbau itu mengamuk di jalan,” cegah Pak Polisi.

Agaknya pengetahuan si demonstran tentang tanda dan makna, jauh lebih baik dari pengetahuan Pak Polisi tentang kerbau, andaikata kekhawatiran Pak Polisi itu, benar-benar jujur tulus dari hatinya.

Kerbau dapat dikatakan hewan yang sangat jinak. Seorang anak penggembala dilukiskan meniup seruling di atasnya. Suatu hal yang sangat sulit dilakukan di atas hewan sejenis, yaitu sapi. Sapi bisa digiring tetapi cenderung menolak kalau dinaiki. Juga lebih ramah dari kuda, karena untuk menunggang kuda perlu latihan. Sedang penulis sendiri di masa kecil sering dengan sengaja digendongkan di atas punggung kerbau yang berkubang di sawah.

Dugaan saya, Pak Polisi telah membaca isyarat-isyarat dari para petinggi negara, bahwa demo membawa kerbau adalah sesuatu melanggar falsafah etika bangsa. Dan kerbau pun dilarang demo.

Kerbau memang hewan terlarang, tapi ini berlaku untuk suatu etnis atau budaya tertentu. Kalau anda mengunjungi alun-alun selatan kota Solo, dan pas anda beruntung, anda akan melihat kerbau-kerbau putih (kebo bule), yang merupakan salah satu benda pusaka keraton dan pasti terlarang. Kerbau-kerbau itu biasa disebut kyai Slamet. Pembawa keselamatan. Pada hari biasa, karena berkubang di lumpur, kerbau-kerbau itu biasanya nampak lusuh dan kumal.

Menjelang awal tahun hijriah, kerbau-kerbau itu akan dimandikan seputih-putihnya untuk diarak dalam kirab tahun baru bersama pusaka-pusaka keraton yang lain. Pun sebagai cucuk lampah. Kerbau-kerbau itu dibiarkan kemanapun pergi, tidak dilarang-larang, dan peserta kirab hanya mengikuti saja. Warga pun boleh berebut kotoran kerbau tersebut, yang dipercaya dapat membawa berkah.

Kerbau di kasunanan Surakarta tersebut telah menjalankan perannya sebagai tanda dan simbol bagi magis-keramatnya keraton dan penguasanya. Paling tidak pada zaman dulu. Sekarang ini, para kolektor sering lancang menjamah kesucian keraton juga demi keuntungan sesaat.

Lain di Solo, lain di Jakarta

Kami tidak mengatakan SBY seperti kerbau. Kalau SBY memaknai kerbau itu sebagai sindiran terhadap dirinya, itu terserah SBY,” lanjut sang demonstran.

Kita dapat saja mengatakan demonstran tersebut sekedar berkilah, atau ngeles. Soal ngeles ini memang harus menjadi basic skill sehari-hari warga negara, bukan hanya politisi. Tetapi tidak selamanya argumentasi ngeles salah, dan belum tentu sepenuhnya benar.

Yang jelas sang demonstran pasti sadar, bahwa dengan dibawanya kerbau itu, memungkinkan Presiden memaknai itu sebagai sindiran bagi dirinya. Juga sebagian orang, bisa memaknainya demikian. Di sisi lain, sah juga para demonstran mengangkat intepretasi mereka sebagai alasan, karena memang tidak ada mahkamah interpretasi.

Nampaknya SBY memang tersinggung, paling tidak tertarik dengan sindiran itu. “Ada juga demo yang bawa kerbau. Ada gambar SBY. Dibilang, SBY malas, badannya besar kayak kerbau. Apakah itu unjuk rasa? Itu nanti kita bahas,” Demikian komentar SBY tentang kerbau SiBuYa itu.

Di sinilah keberhasilan para demonstran. Ketersinggungan yang nampak dari SBY terhadap perlambangan kerbau, dapat melipatgandakan efek sindiran itu sendiri.

Di alam objektifnya, kerbau boleh memiliki sifat negatif atau positif. Sifat positifnya antara lain pekerja keras, stamina yang hebat, mudah diajak kerjasama, mau berbagi dan lain-lain. Sifat negatifnya antara lain lambat, gendut, atau dungu. Sifat yang terakhir ini dapat diperdebatkan, karena hewan yang dapat bekerjasama biasanya tergolong pintar. Sedangkan presiden kita itu, sedikit tidak akurat dalam menilai kerbau, karena beliau mengatakan kerbau malas. Padahal kerbau jelas tidak malas.

Kuranglah relevan membahas das ding an sich-nya si kerbau, kenyataan objektif seekor kerbau. Karena kerbau yang dihentikan di Kalimalang itu, sebagaimana jelas pendemo, bukan kerbau lagi, melainkan tanda ataupun simbol. Tidak seperti kerbau yang penurut, kerbau sebagai simbol mudah mengamuk. Ia dapat bermakna apa saja dan ditransmisikan secara kilat dan liar dari pikiran ke pikiran, dari gagasan ke gagasan, membentuk pikiran dan gagasan. Gagasan tentang kerbau, tentang penguasa, tentang presiden, termasuk gagasan tentang kerbau itu sendiri.

SBY terjebak di dalam ruang kaca, ia takut terhadap bayangannya sendiri, ” kata Boni Hargens. Terlepas dari kebenaran diagnosis sang cendekiawan, kita dapat melihat sebersit kekhawatiran di benak SBY.

Kenyataannya, tajamnya tanduk imaji kerbau itu memang menohok bangunan citra sang Presiden, tepat di titik yang lemah. Bangunan itu pun seolah goyah, dan sebagian dari kita memahaminya hanya dalam tawa di hati. Khasiat tanduk kerbau itu biarlah misterius. Bisa jadi karena Presiden bershio kerbau, atau karena sebagian orang membilang di dalam hatinya, seperti yang dirangkum Presiden sendiri, “SBY malas, badannya besar kayak kerbau

Kerbau yang dihentikan di Kalimalang itu, telah mengamuk lebih hebat dari yang dikhawatirkan para Polisi. Di media, di koran, di televisi dan internet, kerbau itu telah berjalan jauh dalam bentuk berita, foto, artikel, diskusi-diskusi. Untuk dilihat lebih banyak orang, didengar, dihafal dan dimaknai lebih banyak orang.

Wacana kerbau ini tetap dapat dipandang positif dalam demokrasi. Karena setelah lelah dengan konsep-konsep yang kita impor, akhirnya masyarakat boleh mendapatkan pendidikan politik yang sangat lokal dan orisinal, yakni tentang hal-ikhwal kerbau.

Lain kali, seharusnya Pak Polisi memastikan keliaran kerbau itu, sebelum semena-mena menghentikannya.

Akhirnya, untuk kembali pada potensi lokal dan orisinal itu juga, cobalah melepaskan imaji kerbau, melepas tanda yang berupa kerbau, menanggalkan simbol kerbau, melepaskan kerbaunya itu sendiri ke lapangan ia biasa merumput. Biarkan ia meluncur dari tenggorok kita apa adanya, seada-adanya, tanpa membebani apa apa. Setulus-tulus, selepasnya, ucapkan itu: k e r b a u. uuuuuueeeehhhh *).

Catatan:
* : uueh adalah suara kerbau menurut verbalisasi penulis. Ini untuk membedakan dengan sapi, karena sapi suaranya: hmmmah. Konon, kalau terkena sapi gila, suara sapi berubah jadi hmmmaha ha ha ha. Sedang kalau kerbaunya yang gila, uuehe he he he

Hantu dalam Sepotong Cermin

kota (google)

Pernahkah anda melihat hantu? – syukurlah kalau belum. Jadi anda tidak perlu trauma terhadap pengalaman mengerikan begitu. Dan anda masih menyimpan rasa penasaran, sehingga tetap dapat menyuburkan perfilman Indonesia yang dari masa ke masa selalu mengangkat kisah hantu. Dari kisah nyai blorong zamannya Suzanna sampai film yang masih dicekal tentang hantu-hantu puncak bukit di bawah rembulan.

Siapa yang tak takut hantu? – sepertinya jarang. Namun hasrat ingin tahu kita selalu mengalahkan rasa takut. Atau rasa takut itu adalah sesuatu yang kita butuhkan untuk memompa gerak-gerak mental yang terlupakan. Sehingga, orang masih berbondong-bondong dalam antrian yang panjang untuk menyaksikan hantu.

Bagaimanapun, sesuatu yang misterius, tak kunjung terpecahkan – rupa-rupanya malah banyak yang merindukan. Tapi ada cara untuk menyaksikan misteri tanpa harus merogoh kocek teramat dalam.

Tunggulah malam larut, carilah sebuah ruang kosong dan gantungkan sebuah cermin yang cukup besar di dinding. Berdirilah beberapa centimeter dari cermin itu sampai wajah dan badan anda cukup jelas terlihat. Tataplah mata anda, wajah anda dan bayangan anda di cermin itu beberapa saat. Lalu berbaliklah, dan biarkan punggung anda yang menghadap cermin.

Tataplah tangan anda, kaki anda, badan anda, dan pakaian anda. Rasakan desir angin yang menyelinap di tengkuk dan sela-sela tubuh.

Lalu berbaliklah ke arah cermin lagi, dan ambil cermin itu dari dinding dan letakkan saja di lantai.

Cermin sudah tidak terlihat, tinggal diri anda di ruangan itu. Sekarang cobalah jawab pertanyaan berikut ini,

Siapakah aku?
Darimana datangnya dunia?*

Saya percaya, kita pernah disergap oleh pertanyaan seperti ini – walaupun sebagian kita sudah melupakannya. Diri kita, dan alam yang kita persepsi melingkupi kita, adalah misteri purba yang nampaknya bakal seabadi peradaban manusia.

Mungkin anda teguh beragama sehingga pertanyaan itu terasa ringan untuk diabaikan. Mungkin anda atheis yang menganggap pertanyaan itu tak seberapa dibanding pencarian anda berpeluh-peluh di jagad buku dan pikiran.

Namun di momen-momen tertentu, bagi saya, pertanyaan itu hadir dan hadir lagi. Masih sunyi seram dan sederhana seperti sedia kala. Anda boleh mengatakan iman saya sedang lemah – di saat-saat ngeri tersebut, jawabnya seolah menggoda lagi. Bagaimana dengan anda?

Catatan
* Pertanyaan itu juga yang diterima oleh gadis kecil Sophie Amundsen dalam sepucuk surat misterius yang seharusnya ditujukan pada Hilde Muller Knag, dalam sebuah buku memikat “Dunia Sophie” tentang sejarah filsafat yang dikarang Justin Gaarder. Namun saya yakin kita pernah dihinggapi oleh pertanyaan yang sama, baik kita belum atau sudah pernah membaca buku tersebut.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.